KIAT BELAJAR ISLAM YANG BENAR - kontra narasi islam

Opini

test banner
LightBlog

Post Top Ad

Responsive Ads Here

KIAT BELAJAR ISLAM YANG BENAR

Share This


Agar penuntut ilmu berhasil dalam belajarnya di bawah manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, maka hendaknya mereka memperhatikan dan mempraktekkan 6 perkara di bawah ini :

(1). Dengan bertakwa kepada Allah, yang nantinya ia akan diberikan furqan (adanya kemampuan untuk membedakan antara yang haq dan bathil)

Allah 'Azza wa Jalla berfirman :

"Wahai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu "FURQAN", dan akan menghapus segala kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah memiliki karunia yang besar" (QS. Al-Anfal [8]: 29)

Bertakwa merupakan perkara yang bisa menopang keberhasilan menuntut ilmu. Dahulu Imam asy-Syafi’i mengeluhkan jeleknya hafalannya kepada gurunya yang bernama Imam Waqi’ :

شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

"Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan kepada ahli maksiat" (I’anatuth Tholibin II/190).

(2). Dengan banyak belajar menimba ilmu kepada para ulama atau ustadz yang memiliki manhaj dan aqidah yang benar, yaitu mereka yang mengajak umat untuk kembali kepada cara beragama yang benar, yang telah dicontohkan dan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat, serta orang-orang setelahnya yang mengikuti manhaj mereka dalam kebaikan.

(3). Dengan banyak berdoa kepada Allah Ta'ala agar terus diberikan hidayah dan taufik, sehingga terhindar dari kesesatan dan kesalahan.

اللَّهُمَّ انْفَعْنا بِمَا عَلَّمْتَنا وَعَلِّمْنا مَا يَنْفَعُنا وَزِدْنا عِلْمًا

"Ya Allah, berikanlah manfaat pada ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada kami dan ajarkanlah hal-hal yang bermanfaat untuk kami dan tambahkanlah kami ilmu"

(4). Dengan melihat kepada dalil atau keterangan yang ada dalam al-Qur'an, as-Sunnah dan perkataan para sahabat yang dianggap sebagai dalil pokok dalam pengambilan hukum. Siapapun yang berbicara tentang agama tanpa dalil, maka dipastikan bahwa ia akan salah dalam memahami agama.

(5). Memahami dalil sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta apa yang dipahami oleh para sahabat. Bukan sesuai dengan akal, perasaan, hawa nafsu dan budaya serta ridho dan syahwat manusia. Jika dalil dipahami dengan cara itu semua maka pasti akan bermasalah, karena setiap manusia pasti berbeda keinginan dan pemahamannya.

Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata :

من الناس من يستفتي أهل العلم، فإن كانت الفتوى توافق هواه قبلها، وإلا أعرض عنها، وهذه صفة من صفات اليهود

"Sebagian orang ada yang meminta fatwa kepada para ulama, maka jika fatwa tersebut sesuai dengan hawa nafsunya dia pun menerimanya dan jika tidak maka dia berpaling darinya. Dan yang semacam ini termasuk sifat Yahudi" (Riyaadhul Jannah hal 17)

(6). Dengan kesungguh-sungguhan mengamalkan ke 5 point di atas, maka insya Allah seorang penuntut ilmu akan mudah memahami Islam dan as-Sunnah, serta mampu membedakan antara yang haq dan bathil.

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata :
لا ينال العلم براحة الجسد
"Ilmu tidak akan di dapat dengan cara bersantai-santai" (Tadrib ar-Rawi II/141).

Imam asy-Syafi'i rahimahullah berkata :
من لا يحب العلم لا خير فيه
"Barangsiapa yang tidak mencintai ilmu, maka tidak ada kebaikan padanya" (Tarikh Dimasyqa XV/407).

Abdul Wahid bin Zaid rahimahullah berkata :
مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ فَتَحَ اللهُ لَهُ مَا لاَ يَعْلَمُ
"Barangsiapa mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari, maka Allah akan membukakan untuknya perkara yang sebelumnya ia tidak tahu" (Hilyatul Auliyaa’ VI/163).

2 comments:

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages